Wednesday, 12 September 2018

Oleh: Muhammad Anang Hasyim

Kadang aku bertanya, kenapa bisa terjadi ? maksudku hal yang bisa membuat hatimu berdegup kencang, bukan ketakutan, hal yang lainnya, cinta maksudku, kenapa bisa terjadi ? benarkah wanita & pria selalu diciptakan bersama, ya memang, tapi bagaimana dengan Gay dan Lesbian ? bagaimana reaksi kedua kubu tersebut mengalami proses antar ketertarikan walaupun sesama jenis ? kadang aku menemukan diriku sedang tersandung dalam kegelapan berpikir seperti para ahli, mengartikan sesuatu yang fana, bedanya para ahli berhasil dan aku tidak, diriku yang menyedihkan ini selalu termenung oleh hal-hal tidak jelas. sangat berbeda dengan tiga tahun yang lalu. saat tubuhku masih pendek dibalut oleh pakaian putih-biru, celana pendek, baju tidak tertata rapi, rambut panjang. Aku orang yang sangat ceria, hanya melihat dunia dari sebelah sisi.

Ada gadis bernama Gita, dia gadis pindahan Bandung yang terkenal dengan aksen Sunda, gadis ini berfikir bahwa aku menyukainya, padahal tidak, dia hanya mengingatkan ku oleh seorang gadis lain bernama Asha, paras mereka benar benar mirip dari penglihatan ku, sifatnya, gerak gerik tubuhnya bahkan cara dia bertutur kata, aku sangat terkejut waktu pertama kali melihat Gita dan pertama kali dia masuk ke ruang kelas aku hampir meneriakkan nama Asha, sungguh sulit dipercaya aku mengira dia Asha, aku dan Asha sudah hampir delapan tahun tidak bertemu, hanya saja aku masih tetap mengingatnya, kami sering bermain saat kecil, karena kami bertetangga aku, Asha dan Iliya. Kami bagaikan sebuah tim Beetleborg serial anak-anak yang sangat terkenal pada akhir era tahun sembilan puluh. Pada saat kami beranjak ke sekolah dasar kami bertiga pergi ke sekolah yang berbeda. Tetapi bukan berarti kami jarang bertemu. Kami tetap sering bermain bersama, setiap hari, tanpa terkecuali. Tetapi saat itu aku sangat membenci suatu hal yaitu “Perpisahan”. Asha harus pindah karena ayahnya yang harus bertugas di luar kota, aku dan Iliya sangat terpukul saat itu, sehari sesaat sebelum dia pindah, kami bermain seperti biasa, hanya saja tidak ada canda tawa yang menghiasi permainan kami. Setengah jam setelah kami bermain kami hanya duduk di batang pohon yang sudah ditebang dan agak layu. Tetapi saat itu dia berkata

“Ini hari terakhir aku berada di kota ini, aku tidak akan kembali ke kota ini.”

“Ya... ini hari terakhir kita bermain” ujar Iliya

“Aku benci hal ini” itu kata yang sengaja menerjang keluar dari bibirku.

Kami semua terdiam tersedu, mengingat semua hal yang sudah terjadi pada kami. Setiap hari kami selalu bermain, apapun permainan itu kami selalu merasa gembira tetapi ada satu hal yang selalu kusuka dalam permainan kami yaitu menjelajah, di dekat rumah-rumah warga dijalan gang kami terdapat hutan kecil, kami selalu memasuki hutan itu dan bukan hal yang aneh kalau kami tidak tersesat. Serangga-serangga kecil yang menempel di batang kayu pohon yang masih berembun, cuaca terik yang ditutupi oleh ratusan dedaunan yang masih menggelantung di pohon. Dan aku tahu kami takkan pernah melakukan hal ini lagi.

Sebuah percikan dari kedua kelopak mataku menghasilkan setetes air asin yang makin lama mengalir makin deras. Dan saat itu juga Asha mengusap air mataku dengan kedua tangannya yang halus dan lembut.

“Aku juga benci perpisahan tapi itu bukan berarti akhir dari segalanya bukan ?”

Saat kepalaku tertunduk dan menghayati ratapanku dia menaikkan kepalaku, memegang dahuku dengan jarinya yang mungil menggerakkan ke atas. Die menengok ke arah Iliya.

“Dan Iliya , ini juga bukan permainan terakhir kita, mungkin juga ada suatu masa saat kita bertemu dan bermain bersama lagi.”

Dia melepaskan tangannya dari daguku dan berjalan mundur tiga langkah, membuka tangannya lebar-lebar.

“Sini biar kupeluk kalian.”

Kami berlari kearahnya dan kami berpelukan sangat erat. Pertemanan yang paling tulus yang paling aku ingat sampai sekarang, tiada kemunafikan diantara kami.

“Lebih baik perpisahan daripada tidak sempat mengatakan sampai jumpa bukan ?”

Saat itu aku berpikir, kenapa bisa ada anak umur enam tahun berbicara seperti itu? Maksudku itu sebuah kombinasi kata-kata sempurna. Setelah itu tiada kalimat lagi, kami langsung pulang kerumah masing-masing karena hari esok, aku dan Iliya sekolah. Pada malam hari tiada kegiatan yang dapat dilakukan, menonton televisi pun pada waktu itu aku masih belum mengerti, hanya tempat tidur yang sangat empuk pilihan terakhir kegiatan malamku.

Tahun-tahun pun berlalu. Dan aku masih saja tidak mempunyai kesempatan untuk satu sekolah dengan Iliya, saat beranjak ke bangku Sekolah menengah pertama aku duduk di Bangku Kayu yang keras dan juga suasana lebih menyenangkan, aku mempunyai sahabat baru di kelasku yaitu, Gamaliel. Dia adalah sepupuku, dan juga sahabatku saat kecil, sama seperti Asha dan Ilya, biasanya aku dan Gamaliel bertemu apabila orang tua kami mempunyai waktu liburan, mereka akan membawa kami berjalan-jalan ke kota lain, pantai, dan sumber wisata lainnya. Akupun menjadi tambah akrab dengan Gamaliel sejak saat itu, kami selalu membahas apapun, apapun itu. Karena pada dasarnya kesukaan dan ketidaksukaan kami sama, dan juga kelas VII B mempunyai fraksi-fraksi, dan kami masuk kedalam salah satu non-fraksi, karena kami akan membahas hal apapun, berbeda dengan fraksi lainnya, mereka membahas semacam Drama Korea, Cinta, Pertempuran dan sebagainya. Tiada hal yang kusesali saat aku masuk ke dalam kelas VII B walaupun kami mempunyai fraksi-fraksi, tetapi kami tetap satu kesatuan, kami selalu bersama dalam suka dan duka sungguh suatu hal yang saat ini kurindukan. Lalu akupun beranjak ke kelas VIII B kami mempunyai masalah baru yang sangat menegangkan, saat itu adalah tahun dimana semua kelas mendeklarasi perang besar-besaran, walaupun sekolah kami adalah sekolah favorit, tetap saja selalu ada berandalan di sekolah tersebut, dan untungnya di kelas kami terdapat Vino. Vino dikenal sebagai berandalan terhebat di kota kami, jadi walaupun kelas lain sedang bertempur, kelas kami tidak akan berani disentuh oleh mereka, dan kelas kami pun tidak pernah menyerang kelas lain. Vino sangat baik terhadap kami, tetapi tidak untuk kelas lain, seperti salah satu contohnya, Dandy, Dandy adalah seorang kurir dikelas kami, dia pengantar makanan dan minuman oleh fraksi Cinta di kelas kami, suatu saat Dandy kembali ke kelas kami dan kakinya terluka. Aku bisa melihat dari matanya, dia merasakan kesakitan yang luar biasa, kakinya bewarna biru gelap bagaikan warna spidol papan tulis yang sering kami gunakan, terdapat luka lebam di mukanya, dan dia berusaha menyembunyikan tangisannya, Vino langsung menghampiri Dandy menanyakan apa yang terjadi, tetapi Dandy seolah diancam oleh sesuatu dan tidak berani berbicara.

“Berbicaralah, luka ini bukan didapat saat jatuh ataupun terbentur, katakan siapa yang memukulmu.”

Vino saat marah itu dan dia tidak bisa menahan amarahnya, dia mempunyai jiwa kebajikan yang sangat luar biasa, hanya saja dia berandalan, seketika bibir Dandy mengucapkan nama ‘Tristan’. Vino langsung keluar kelas dan semua laki-laki di kelas kami mengikutinya, untuk pertama kalinya kelas kami menyerang kelas lain, lalu terlihat Tristan sedang berjalan menyusuri lorong kelas-kelas, Tristan adalah pemimpin geng di kelas VII C. Seketika Vino langsung berlari dan menendang Tristan hingga terkapar, tanpa menjelaskan kata-kata. Tristan lalu berdiri dan memukul Vino, terjadi baku pukul diantara mereka, dan sebagian guru-gurupun tidak berani menghentikan mereka, menurutku itu adalah perkelahian terhebat yang terjadi di mataku. Tristan dipukul hingga mimisan dan Vino tidak mempunyai luka sedikitpun, sungguh merupakan sebuah perbedaan besar diantara mereka, dan dari kejauhan seorang guru mendatangi mereka, dan menampar mereka berdua, guru itu adalah seorang guru matematika dan aku yakin dia juga mantan berandalan pada saat dia sekolah dulu, dia bisa menghentikan perkelahian dengan seketika, Vino dan Tristan kemudian dibawa keruangan kepala sekolah. Dan Vino mendapat hukuman untuk membersihkan halaman sekolah selama satu minggu dan Tristan diskor selama satu minggu karena ulahnya memukul si Dandy. Aku kira itu adalah perkelahian terakhir yang terjadi di kelas VII B ternyata tidak, saat kami beranjak ke kelas VIII B kelas kami berada di bangungan atas, bersama dengan VIII A. Dan tiga hari setelah saat ujian akhir semester genap selesai, aku melihat dari atas bahwa kelas C, D dan E berombong-rombong mendatangi kelas kami, dan aku bisa melihat dari ekspresi mereka bahwa mereka datang bukan untuk beramah-tamah tetapi untuk menghabisi Vino dan kami, kamipun cepat-cepat berlarian ke kelas untuk mengambil bangku dari kayu membuat barikade di anak tangga untuk menghalangi jalan masuk mereka. Itu akan membutuhkan waktu untuk mengancurkan barikade kami. Lalu kamipun bersiap-siap untuk melancarkan serangan apabila mereka sudah menerobos barikade kami. Vino pun juga bersiap-siap. Saat mereka menerobos kami pun berusaha mendorong mereka untuk menjauh dengan menggunakan bangku. Sungguh tidak seimbang kelas kami melawan tiga kelas, sepuluh menit kami berkelahi dan akupun mulai kesakitan dan tidak kuat lagi melanjutkannya, begitu juga dengan Vino aku bisa melihat wajah dia mulai kecapaian, Gamaliel masih bersikeras untuk melawan mereka, dan saat itu keajaiban pun terjadi, VIII A membantu kami, walaupun mereka adalah sekumpulan kutu-buku mereka sangat membantu, dan tawuran kami diakhiri saat kepala sekolah berbicara menggunakan microphone melalui ruang kerjanya dan berkata dia akan menskors kami semua apabila tidak menghentikan semuanya. Seketika kami menghentikan semua tawuran kami dan itu untuk terakhir kalinya.

Tiada perkelahian lagi saat kami beranjak ke kelas IX B karena semua sudah fokus untuk ujian penyetaraan nasional, tiba-tiba saja saat aku melamun di pelajaran IPS aku mengingat sebuah nama, yaitu Asha, entah kenapa aku mengingat namanya di dalam kepalaku, pikiranku memikirkan tanpa permisi. aku pun menjadi penasaran apakah masih ada kesempatan untuk bertemu orang ini lagi? Yang aku tahu tempat mencari orang-orang hilang yang paling tepat adalah jejaring sosial, tempat dimana aku bisa menemukan orang-orang yang tidak bisa kutemukan, karena itu aku mencari Asha, tapi lucunya aku tidak tahu nama depan dia dan juga Asha hanya panggilan kecil dia, tamatlah sudah teman masa kecilku ini. Karena itu aku masih berfikir bahwa Gita itu adalah Asha, aku meminta nomor selulernya, bertanya tentang keluarganya, alamat rumah, sekolah sebelumnya, kehidupan dia saat di kota sebelumnya dan aku baru menyadari sekarang bahwa saat itu aku seorang penguntit, sungguh bodoh. Satu hal yang paling kusenangi dari gadis ini adalah dia selalu menerima orang yang mendekatinya dan bahkan tidak menjauhinya, dia pernah berkata;

“Kenapa sih kamu nanya-nanyain tentang kehidupan aku, kamu suka ya sama aku? Maaf ya tapi aku udah punya pacar.”

Dengan pandangan mengoda dan parasnya yang mendukung aku menjadi sedikit gugup dan terkejut mendengar hal itu

“Kamu tau gak? Kamu kayak adik aku, nggemesin gimana gitu, aku panggil bebek aja yah kamu?”

“hahaha iya...”

Apa maksudnya ini! Apakah dia berpikir bahwa dia menyukaiku? Oh, tidak, dia telah salah sangka dengan semua perkara ini.

Tidak ada pilihan lain hanya jawaban positif lah yang bisa kukatakan, tetapi ada sesuatu yang tidak pernah kuduga yang keluar dari mulutnya.

“tapi kalau kamu memang bersikeras dapatkan aku, kejar aku, tunggu aku di bandung nanti.”

Aku berfikir, perempuan ini membuka jalan lebar untukku, aku kagum dengannya, bukan karena aku menyukainya tetapi dia selalu mengenal orang itu terlebih dahulu tanpa menolaknya, dan inilah yang harus aku tiru darinya, kebanyakan aku melihat seseorang perempuan akan menjauhi lelaki yang tidak disukainya tetapi berbeda dengannya dia sungguh baik padaku.

Aku melanjutkan ke sekolah menengah atas yang sangat populer di daerahku Pendapat mayoritas berkata masa-masa sekolah yang paling menyenangkan adalah SMA, menurutku persetan dengan hal itu, yang ada hanya intimidasi, diskriminasi dan pembunuhan karakter yang dapat aku petik di sekolah. Dan hei, karakterku sangat berubah saat aku masuk kelas satu SMA kenapa ?

Terutama hari senin. Upacara bendera adalah kegiatan yangg paling sedikit peminatnya. Hanya Setengah yang tulus menjalaninya aku berani bertaruh nyawa untuk hal ini. Apalagi kalau pembina upacara memberi pidato panjang lebar kali tinggi. Kalaupun berangkat pagi-pagi, tidak lain karena malamnya tidak mengerjakan PR, dan pada saat pagi berkelana mencari contekan di berbagai buku teman. Merasa bahagia tiada tara kalau ada pelajaran kosong. Seisi kelas bakal memanfaatkannya untuk berbincang-bincang segala hal-hal, dari yang tidak penting sampai yang paling tidak penting penting! Tertawa, berkicau ria, dandan, mengutak-atik telepon seluler, baca buku tapi bukan buku-buku pelajaran sekolah. Pokoknya perasan campur aduk. Hati menjadi geram saat santai tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi. Jam istirahat terasa singkat, tapi jam belajar bagaikan seabad. Dan apa lagi gurunya yang datangnya tepat waktu, tolonglah kami, kami anak remaja. guru killer, memang menyayat hati, Bawaannya pengen ngajak adu jotos aja, tapi yah cuma berani dalam hati aja! Kalau ada guru telat masuk santai aja tidak ada masalah. Tapi kalau telat keluar padahal jam pelajaran udah selesai, ini jelas jadi masalah. Aksi protes bakal menggema sampai ke sudut-sudut paling terpencil kelas. Aku tidak menjalankan hari-hari di SMA ku dengan baik, bahkan makin memburuk, tiada hari tanpa kusesali kenapa aku memilih sekolah ini.

Dari hati gelapku meneriakkan hal kecil bahwa aku lebih senang dengan masa putih biru karena tidak adanya rasis kelas dan ternyata Pendapatku salah, saat kenaikan aku melanjutkan ke program studi bahasa, memang terasa pahit melihat hasil angket yang tidak selaras dengan niat awalku, tapi tak apalah sebenarnya aku juga ingin meneruskan ke program bahasa. Setengah dari murid bahasa sudah aku kenal karena mereka rata-rata adalah temanku saat kelas satu SMA ya jadi ini kesempatanku untuk berkenalan dengan sisanya. Kelasku hanya berisi duapuluh siswa tidak kurang dan agak lebih. Tidak ada yang spesial dari kelasku hanya sebatas teman bicara saja, berbeda dengan smp, dimana ada wilayah yang terbagi bagi untuk setiap siswanya, mulai dari Nerd, Geek, K-Pop, Masculin, Feminim, dan Normal. Khusus untuk kelasku semua daftar itu terhapus karena ketidakjelasan murid-muridnya. Saat itu juga aku berdoa semoga aku cepat keluar dari sekolah ini.

Akupun menahannya selama dua tahun berturut-turut dan aku sanggup hingga sudah tidak terasa aku sudah menduduki kelas XII dan sebentar lagi akan meneruskan ke bangku kuliah, tidak ada yang spesial kecuali hari Ujian dimana 12 tahun semua murid sekolah menempuh ujian hanya tiga hari ujian mereka akan bertempur habis-habisan. delapan Bulan sebelum kami menempuh ujian, ada suatu berkah yang telah didatangkan oleh kelas kami, yaitu anak pindahan kabarnya dia berasal dari sekolah Bilingual International, kabar ini sudah menjamur sebelum anak pindahan itu datang dan lucunya guru-guru tidak memberitahu dengan jelas spesifikasi anak ini, gender pun tidak disebutkan itu yang membuat kami penasaran.

“Aku berharap semoga dia perempuan.” aku berteriak

“Bukan kamu aja yang berharap disini Asa.” seru Riki

“Tapi kalaupun dia perempuan, dia jelek bagaimana?” tanya Gio

“Asalkan perempuan, aku sudah bosan melihat wajah-wajah kalian saja.”

“Bukan kamu aja yang bosan Asa, aku aja mau muntah melihat wajah kamu, tapi bisa bisa kalau cowok yang datang dihembat Gio tuh.”

“ehh! Kamu ngatain aku Gay!?”

Kriing

Bel kelas berbunyi, kami masuk ke kelas menunggu anak pindahan baru itu. Guru belum datang karena itu kami masih sempat berbincang-bincang, suara gema kami terdengar sampai kelas sebelah, walaupun kami hanya duapuluh suara kelas kami dapat menyetarai kelas lain yang siswanya hingga tigapuluh, guru kelas lain pun mendatangi kami dan meneriaki kami agar jangan ribut. Itu sudah menjadi hal yang biasa bagi kami selalu ditegur karena kami selalu ribut. Tiga puluh menit sudah waktu berlalu gurupun tak kunjung datang, kami memulai kegaduhan kami mulai dari, menonton film di laptop, mengobrol, bersahut-sahutan, dan hal yang tidak penting lainnya.

Tik tok

Suara Langkah kaki menuju ke ruangan kami, terdengar jelas itu adalah suara hentakan sepatu hak tinggi untuk perempuan. Wali kelas kami ibu Ivy pun mendatangi kelas kami diikuti dengan seorang gadis cantik orisinil indonesia yang sudah pasti dia adalah anak pindahan dari sekolah Bilingual International itu. Memakai sepatu pantofel hitam, Berpakain rok hitam pendek di bawah lutut, berblazer hitam masih lengkap dengan lambang sekolahnya, kemeja putih dengan dasi hitam, rambut panjang berwarna hitam agak bergelombang, kulit putih, tinggi rata-rata perempuan indonesia, bibir merah, hidung mancung. Apabila gadis ini diberi nilai antara satu sampai sepuluh aku akan memberikannya sembilan.

“Anak-anakku tercinta kita kedatangan teman baru yang akan menghiasi kicauan kelas kalian.”

“itu kan Majas bu!” seru kami.

“eh muridku yang baru, cantik, pintar dan berkharismatik maukah kamu mempernalkan diri kamu di depan kelas?” tanya ibu Ivy dengan intonasi khasnya.

“ya, perkenalkan nama saya Tatjana Marshanda”

“ehem nomor seluler!” seru Riki

“Whuoooooooooooooo!!” semua siswa-siswi kelas bahasa mensoraki dia karena cara dia menggoda anak baru, ini sungguh menggelikan.

“hmm, boleh saya lanjutkan?”

“Silahkan”

“Saya tinggal di Bandung, ada pertanyaan?”

“Hah? Itu yang namanya perkenalan?” aku berbicara dengan lantang walaupun itu sebuah pertanyaan.

“yah, terlihat sepertinya kamu penasaran denganku?!”

“wah percaya diri sekali kamu, lagian siapa juga yang mau cari info tentang kamu!”

“Cieeeeeeeeeeeeeeeee.” seperti biasa .

“Nah, nah sudah emm Yana kamu duduk sebelah Asa aja ya.” ibu Ivy mencoba meleraikan perdebatan kami.

“GAK MAU!” kami berdua berteriak dengan harmonis yang luar biasa, setidaknya itu adalah satu-satuny hal dimana kami bisa saling setuju.

“kalian gak sayang ya sama ibu?”

“huh!”

Mendengar kata-kata ibu Ivy Yana langsung duduk, walaupun bersebelah kami tetap saja merasa ada kaca pembatas diantara kami, aku merasa menjadi tidak peduli dengan keberadaannya, padahal tigapuluh menit yang lalu aku berharap-harap tentang dia, tapi sekarang yang terjadi adalah pertengkaran, ya sudahlah tak apa, lagi pula aku juga hanya delapan bulan lagi melihat wajahnya dan akan berpisah.

Sudah tiga minggu dan kami tidak kunjung bicara, Yana sudah bisa beradaptasi dengan Reina, Yuna, Lizha, dan lainya. Aku mendengar kabar bahwa Yana adalah anak orang kaya yang sangat kaya, ayahnya adalah seorang Diplomat, ibunya pengusaha Restoran, hanya saja dia berlagak seperti orang biasa, tidak ada memamerkan sisi kayanya sedikitpun, dia terlihat seperti gadis pada umumnya, hanya saja dia itu spesial, agak berbeda dengan yang lain, aku tidak bisa mengekspresikannya dengan kata-kata,,,

Hei! Kenapa aku malah kepikiran !?” tanpa sadar aku telah berteriak, untung saja itu adalah waktu istirahat, para wanita ini pun memerhatikan aku sejenak, dan Yana pun langsung memberikan tatapan penuh godaannya.

“ahhhh,, memikirkan aku ya?”

“enak aja siapa yang mikirkan kamu!”

Kriingnging

Bel tanda masuk kelas berbunyi semua lekas duduk dan untuk pertama kalinya Yana mengajakku bicara.

“hei,, kamu masih kesal sama aku?”

“ga,, gak kok.”

“jujur lho aku paling gak tahan diem-dieman kayak anak kecil aja, aku aja ya yang bilang maaf deluan”

“...”

“kamu mau maafin aku ga?”

“Iya.”

“oh ia, hei hobby kamu apa? Aku tidak menanyakannya pada orang lain lho khusus kamu aja.”

Dia memulai sebuah percakapan ringan untuk membuat ikatan batin dengannku, apabila aku menolaknya pasti akan terjadi pertengkaran lagi karena itu aku menjawabnya.

“aku ingin jadi Penulis.”

“wah, cita-cita yang indah.”

Lalu dia berhenti berbicara, dia perempuan yang hebat, dia sudah tahu pola pikir manusia, dia pasti berpikir aku akan bertanya balik hobinya dan aku juga sudah tahu bahwa hal itu akan terjadi karena itu aku juga diam.

“kamu ga nanya hobi aku apa?” dia bertanya balik

Dia memberikan sebuah tatapan penuh godaan dengan senyuman dia yang menawaan, aku berfikir apakah dia sengaja melakukan ini, seharusnya dia juga diam dan kami akan bertarung batin apakah aku akan menanyakan hobi dia atau tidak tetapi dia langsung mengalah, aku tidak mengerti gadis ini.

“baiklah hobi kamu apa?”

“aku ingin jadi Aktris.”

Dia cantik, putih, manis, mempunyai kharisma, lumayan tinggi untuk gadis seusianya sekitar 158-160 dan aku berfikir itu pasti sangat mungkin untuknya, terlebih lagi dia selalu tampil modis.

“kalau begitu semoga berhasil ya.”

“ya kamu juga.”

sejak saat itu kami mulai mengenal satu-sama lain dan sudah tidak pernah bertengkar lagi, sungguh luar biasa seorang gadis meminta maaf padaku, aku malah berfikir aku pengecut hanya karena sebuah kalimat kecil aku bertengkar dengan gadis ini.

“gak, seharusnya aku yang minta maaf”

“ah sudahlah, kamu merayuku ya?”

Dia selalu memberikan tatapan godaan itu, aku mulai suka dengan tatapan dia ini, dia sangat hebat dalam meluluhkan hati pria disekitarnya, ini adalah tekhnik yang jitu untuk membuat orang luluh padanya. Dan hebatnya sihirnya dia ini mulai berpengaruh kepadaku. Baru dua bulan dia bersekolah di sini, tetapi rasanya sudah satu tahun bersamanya, entah kenapa kekerabatan aku dan dia mulai terjalin dengan baik salah satunya juga karena faktor aku duduk disampingnya dan rasanya aku mulai suka dengan orang ini. Dia selalu menceritakan dirinya saat berada di sekolah sebelumnya tentang kehidupannya pada waktu itu, hanya saja dia tidak pernah menyebutkan nama-nama temanya pada saat menceritakannya entah kenapa tidak ada satupun nama yang disebutkannya tetapi, walaupun begitu aku sangat senang mendengarkan gurauannya, aku rela tidak mendengarkan kata-kata guru hanya untuk mendengarnya bercengkrama aku rela dia memarahiku karena pada saat dia marah aku senang bisa melihat parasnya dia yang menawan dan dia selalu bingung saat dia marah kepadaku karena aku selalu memberikan sebuah senyuman untuknya, ah aku suka dia. Aku tenggelam oleh kesenangan, aku takut apabila terlalu dekat dengannya dia bisa mendengar detak jantungku yang begitu kuat karena dia. ketika jatuh cinta, akan ada satu nama yang mengencangkan debar jantungmu. Saat terluka, nama itu meloncat ke paru-paru, mencekik, menyesakkan seluruh hela napas di dadamu.

“Hei Yana.”

“Yep.”

“apakah kamu menjalin hubungan dengan seseorang?”

“kenapa tiba-tiba kamu bertanya begitu? Ah! Kamu suka sama aku?”

Lagi-lagi dia memberi tatapan itu, sungguh aku tak tahan melihatnya, dia terlalu cantik aku tak bisa bertutur kata hanya karena tatapan itu.

“Sebenarnya ada, dia bisa dibilang hubungan kami spesial tetapi kami tidak berpacaran, dia sedang ada di Bandung, dia sedang menungguku, dan aku menunggunya”

“!?”

Hujanpun turun, hatiku terkoyak mendengar sebuah kalimat yang terucap dari mulutnya yang merah itu, rasanya pupus sudah harapanku untuk melihatnya, aku menjadi murung saat mendengar kalimat itu aku langsung memberhentikan percakapan itu secepat kilat, ku tolehkan kepalaku ke papan tulis agar dia tidak melihat betapa kecewanya diriku, memang aku bukan siapa-siapanya, aku juga baru mengenalnya selama dua bulan, kehidupannya dia yang sebelumnya juga tidak kuketahui bahkan aku bisa dibilang kuno dimatanya karena perbedaan status sosial, sudahlah. Hujan tak juga reda, seseorang yang biasa kusebut 'aku' saat berbicara denganmu, sedang melamun di balik jendela, berharap kau menyapa, sebelum rindunya kadaluarsa. Aku melihat kebahagiaanmu seperti melihat pelangi. Cahaya yang berada diatas kepala orang lain. Dan aku pun terusir menjadi bayanganmu. Dalam hati aku berteriak “aku harus melupakannya!” aku benci tatapan dia, aku benci karena dia selalu harum, aku benci rambutnya yang terurai menutupi parasnya yang menawan, aku benci senyuman dia, aku benci dia. Itu adalah sebuah kata-kata motivasi untuk melupakannya. Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Aku telah jatuh kedalam perangkapnya, setiap malam aku hanya memikirkannya, disaat pelajaran hanya dia yang kupikirkan, bahkan terkadang aku mulai berusaha mengabaikan dia dengan cara tidak mendengarkan dia.

Sudah tiga bulan dia belajar di sekolah ini dan tetap aku tak bisa melupakannya, makin aku melupakannya makin aku menyukainya, dan aneh rasanya teman sebangku tidak mengobrol sedikitpun dan aku mulai mengoreksi diri sekali lagi, aku mulai berbicara dengannya lagi karena pada saat suatu malam aku meminta saran dari Iliya teman masa kecilku, aku tidak pernah hilang kontak dengan dia walaupun sudah duabelas tahun berteman, walaupun aku juga tidak pernah satu sekolah denganya aku selalu bertemu dan bertukar cerita dengannya, dia adalah teman terlama yang aku ingat sampai sekarang, saat aku menceritakan seorang gadis dengannya dia tertawa terbahak-bahak karena baru pertama kali dia mendengar aku jatuh cinta, sebenarnya sih tidak, ada gadis lain pada saat aku kelas XI dia mendekatiku, bukannya aku tidak suka dengannya, dia cantik, baik, cerdas, dan lugu, dia pernah satu sekolah denganku saat smp, dan dulu aku pernah senang melihatnya, tapi itu karena aku masih anak-anak, dan pada saat sekarang semua berbalik arah, dia menjadi menyukaiku dan aku sudah jatuh cinta dengan orang lain. Sialnya terlahir sebagai lelaki adalah diberi hak tuk memilih. Dan siapapun wanita yg dipilih, pasti ada yg terluka karenanya. Pun sebaliknya. aku ingin bilang kepadanya bahwa aku hanya ingin berteman dengannya tidak lebih dari sekedar itu, tapi aku tak bisa. Karena mengingat perilaku Gita padaku dulu, perilaku dia selalu berada dikepalaku yaitu selalu bersikap manislah kepada orang menyukaimu walaupun kamu tidak menyukainya, paling tidak berkenalanlah dengannya dulu jangan langsung menghindarinya, itu karena pacaran anak remaja zaman sekarang hanya mengambil kesimpulan singkat padat jelas, mereka hanya melihat dari luar dan berkata dalam hati “aku bakal tidak cocok dengan orang ini” dan mereka menjauhinya. Berbeda dengan Gita yang selalu membuka lebar pertemanan orang-orang disekitarnya dan kali ini aku harus menirunya, aku selalu baik terhadap gadis yang menyukaiku tetapi itu hanya sebagai teman tidak lebih, dia mengira aku ingin menjadi kekasihnya padahal tidak, bagiku suatu saat pasti ada orang yang istimewa datang padanya dan meminangnya dan itu bukan aku. Iliya berkata padaku bahwa aku masih punya kesempatan yang sangat besar untuk mendapatkan Yana, karena pada dasarnya Yana dan orang itu hanya berhubungan jarak jauh dan perbedaanya adalah aku dan Yana selalu berada di ruangan yang sama setiap harinya. Dan juga Iliya memberikan pendapatnya padaku bahwa Sebelum Janur Kuning Melengkung, dia masih pantas untuk direbutkan karena itu aku menjadi bersemangat lagi untuk mendapatkannya dan ada satu peluang yang besar yaitu

Lebih baik merebutkan gadis yang sudah memiliki kekasih karena kita hanya bersaing dengan satu orang, beda dengan gadis yang tidak memilikinya kita akan bertaruh satu diantara sepuluh ribu pria.

Keesokan harinya pada saat pagi, dia datang dengan biasa, duduk dengan biasa dan memberikan sebuah senyuman pagi yang sudah biasa aku lihat. Saat itu juga aku langsung membuat kesempatan aku terbuka lebar.

“Yana!”

“Ya?”

Aku menyerukan dia dengan semangat dan dia melihat secara heran kepadaku.

“Aku ingin menjadi penulis!”

“Yah bagus!”

“Aku akan membuat sebuah novel, dan pada saat novel itu akan terkenal dan menjadi sebuah layar lebar kamu akan menjadi tokoh perempuannya”

“Wahhhh, keren sekali! Aku suka itu! Aku tunggu itu!”

Aku bisa melihat betapa bahagianya wajahnya saat dia mendengar ucapanku dan aku menarik nafas dalam dalam untuk melanjutkan kata-kata selanjutnya.

“Dan apabila itu terwujud, maukah kau menikah denganku!”

“!?”

Bodohnya aku, aku berteriak sangat keras, beruntung tidak ada yang mendengarkanku mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing, selagi wajah Yana yang merah merona membuat dia sangat lucu dia seperti tersipu malu aku sedang jantungan menunggu jawaban darinya. Sekian detik aku menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutnya dan tidak kunjung keluar! Itu adalah detik-detik terlama dalam hidupku. Untunglah saat menit-menit berlalu dia berkata.

“Ayahku pernah berkata, carilah lelaki yang ingin menikahimu, bukan memacari mu, karena itu aku menerimanya, aku tunggu saat-saat itu.”

“YEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEESS!” aku berteriak sekuat-kuatnya dan teman-temanku heran karena aku berteriak dengan penuh semangat, guru dari kelas lain pun datang dan memarahi kami karena pada saat itu adalah jam pelajaran. Yana pun menyembunyikan tawa kecilnya karena melihat tingkahku.

Aku berhasil mendapatkanya! Sekarang peluangku lebih besar daripada orang itu dan aku merasa dewi cinta dan dewa perang membantuku dalam hal ini, aku masih punya lima bulan untuk mengenalnya lebih jauh lagi, karena itu setiap harinya, aku mulai sering berbicara lagi dengannya. Aku terlalu senang untuk hal ini bisa bisa aku mendapat serangan jantung karena terlalu gembira, karena mulai sekarang aku akan berusaha membuat novel untuk sebagai alat peminangnya dan film sebagai prasarananya. Hari demi hari aku mulai merasa aneh duduk disebelahnya aku merasa canggung untuk memulai percakapan, beda dengan kemarin seperti biasanya aku memulai obrolan ringan tetapi kali ini beda, aku tidak tahu kenapa tetapi ini terasa aneh. Tetapi terimakasih telah menjadi alasan ku untuk senyum-senyum sendirian.

“Emm Yana?”

“Ya?”

“Eh, Maa, makanan favoritmu apa?”

Kepada sunyi, seribu puisipun bisa kuberi. Namun kepada yang disukai, semua kata-kata seolah terkunci, yang tersisa hanya debar hati yang tak terkendali. Ah sialan.

Karena terlalu canggung aku malah menanyakan makanan kesukaannya, sudah aneh rasanya apabila kita menyukai wanita, berbeda dengan Yana dia hanya menanggapinya dengan biasa walaupun pada dasarnya wajah dia agak memerah

“Emm , Bakso?”

Aku langsung menolehkan kepala ke sisi lain dengan mengetok-ngetok keningku, untuk apa aku menanyakan hal itu, sungguh hal yang tidak patut dipertanyakan, sungguh aku menjadi begitu canggung apabila didekatnya, aku ingin selalu didekatnya tetapi bila didekatnya aku malah terasa canggung!

Aku selalu melamun, hanya dialah yang kulamunkan. misalnya dia mengacuhkanku, takkan aku gelisah. anggap saja kini aku menjelma angin, tak mungkin tak dia hirup meskipun dia tak ingin. karena dia sebagai udara, yang dihisap dalam liku nafas hidupku yang turun-naik. Kadang dia membalas tatapanku dan langsung mengalihkannya, aku merasa senang pada saat itu. Pikirku dia malu karena terlalu lama untuk menatapku.

Tak terasa sudah enam bulan Tatjana bersekolah di sini, aku merasa senang lebih bisa mengenalnya, namun di lain sisi aku merasa sedih bukan karena ujian akhir nasional tetapi karena dua bulan mendatang aku akan berpisah dengannya, aku tak sanggup menerimanya, untuk apa aku dipertemukan dengannya tetapi pada akhirnya dipisahkan oleh waktu? Pada saat siang jam ke enam pelajaran itu adalah bahasa Inggris tiba-tiba saja dia mengajakku bicara.

“Gak terasa ya udah enam bulan aku disini”

“Haha iya, aku mau nanya kamu kan tinggal di Bandung, kamu kenal gak sama cewek namanya Gita?”

Aku hanya sekedar bertanya untuk membuat percakapan ringan, pada dasarnya mungkin dia tidak mengenalnya karena Bandung adalah kota yang luas dan juga Gita tidak mungkin satu sekolah dengan Yana.

“ohh aku kenal, dia satu sekolah denganku, satu kelas juga, dia pernah berkata kalau dia pernah bersekolah di kota ini juga, kok kamu bisa kenal sama dia?”

“Ahh dia teman ku pas kelas tiga smp dulu”

Sangat mengejutkan Gita dan Tatjana adalah teman sekelas bagaimana mungkin itu sebuah kebetulan belaka, sungguh luar biasa.

“ohh, eh aku juga punya teman lho dulu disini” ujar Yana

“oh ya? Siapa?” akupun menjawab dengan penasaran yang sangat tidak terkendali

“Aduh aku udah lupa, soalnya sudah dua belas tahun aku gak ketemu sama mereka.”

Saat dia mengucapkan kejadian itu aku menjadi ingat suatu momen dimana aku selalu bermain dengan teman-teman masa kecilku dulu.

“tapi aku masih ingat salah satu dari mereka, dia ada disekolah ini, namanya Raisa dia ada di program studi Sains”

“Raisa?”

Raisa, adalah gadis dari program sains, dia cukup pintar dikelasnya wajahnya juga bisa dikategorikan untuk direbut para lelaki, hanya saja aku kurang mengenalnya ketika kami beranjak dewasa dan itu juga menjadi kurangnya ketertarikanku untuk mendekatinya.

“Ya dulu kami berempat, dua perempuan dan dua laki-laki, kami dulu sangat suka bermain di hutan belakang perumahan kami asik sekali.”

Aku sangat terkejut mendengar hal itu, kata-kata Yana sangat persis dengan kejadian aku pada dua belas tahun yang lalu, apakah dia gadis yang sama dengan masa kecilku, tetapi ada yang mengganjal disini, aku hanya ingat bahwa aku hanya mempunyai dua teman yaitu Iliya dan Asha, tidak ada Raisa, disitu aku mencoba mengingat kejadian samar-samar itu, tetapi apa yang terjadi aku malah mengingat jelas semuanya, aku memang mempunyai empat teman pada waktu itu, Iliya, Asha dan Raisa disini aku mulai yakin bahwa Yana adalah Asha dan aku mulai memancing nama lain Yana

“Asha?”

“heh?”

“kamu Asha !?”

“Kenapa kamu tahu nama panggilanku!?”

“!”

“Asa! Jangan-jangan kamu temanku pada waktu itu!?”

Aku sangat terkejut, bahwa Yana adalah Asha, gadis yang aku sukai ini adalah teman semasa kecilku dulu, dia sudah tumbuh menjadi gadis dengan kepribadian yang berbeda saat aku mengenalnya. Yang membuat aku heran yaitu ternyata wajahnya dia jauh berbeda dengan Asha yang dulu bahkan berbeda dengan Gita, ternyata wajah Gita dengan Asha yang dulu memang agak mirip tetapi sekarang wajah Asha ketimbah jauh lebih cantik dibanding Gita, saat itu aku dan dia terdiam agak lama dan mencoba mengingat semua kejadian yagn terjadi pada kami dua belas tahun yang lalu. Lalu kami pun tertawa terbahak-bahak bahwa kami dipertemukan dengan sebuah kejadian yang luar biasa diantara sepuluh ribu wanita aku dipertemukan lagi dengan gadis ini seperti takdir sudah terukir di bintang. Ternyata bukan hanya aku. Bintang pun sekiranya kesepian karena tidak ada orang yang mengharapkannya malam ini. Dan kita pun masih di lahirkan di langit yang sama. Aneh sekali.

Akupun menceritakan tentang Iilya dan Raisa, kami harus membuat reunian untuk terakhir kalinya sebelum kami lulus dari sekolah ini, kami setuju dan melakukan sebuah reuni kecil-kecilan di restoran dipusat kota. Hari itu adalah hari terbaikku, melihat mereka bertemu, tertawa, menceritakan petualangan mereka, hari itu, hatiku hangat, aku mengeluarkan senyum yang tidak bisa kusembunyikan, aku menangis seketika dan langsung mengusapnya, tidak ada yang boleh tahu aku menangis, dan Asha tidak boleh mengusap air mataku, aku akan terlihat lemah di depannya. Hari itu, aku akan ingat hari itu.

Hari yang ditunggu-tunggu datang, hari dimana kami menempuh dua belas tahun sekolah hanya untuk tiga hari yaitu ujian akhir. Semua persiapan sudah disiapkan semua murid diseluruh penjuru Indonesia, bukan altileri atau skuadron tetapi ilmu, mental, dan fisik oh ya tentu saja dengan peralatan sekolah, kami sudah siap untuk menghadapi hari ini, hari pertama, kedua dan ketiga sudah kami lewati dengan mudah, tidak ada hambatan yang sulit, lalu saat bel terakhir berbunyi itu menunjukkan bahwa kami telah selesai menempuh ujian akhir. Semua murid bersyukur atas pentingnya hari ini dimana hari ini kelak akan menentukan dimana mereka selanjutnya, begitu juga dengan Yana dia menghadapi ujian ini dengan mudah karena dia sudah berada di tingkat yang lain dengan kami, nilai rata-ratanya sudah bisa dibilang mendekati sempurna walaupun sebenarnya nilai rata-rataku juga bagus, lalu aku juga melihat hasil penerimaan jalur mahasiswa dan aku diterima di Bandung salah satu universitas yang populer di Indonesia untuk Literaturnya, aku sudah bersikeras untuk membuat novel suatu saat dan karena itu aku pergi ke bandung untuk melanjutkannya sekaligus bisa dekat dengan Yana.

Semua wanita terlihat cantik dan rapi mereka memakai baju kebaya untuk hari perpisahan dan laki-laki memakai jas, semua terlihat tampan bahkan Yana terlihat sangat manis dia memakai baju kebaya putih, rambutnya dia telah memanjang untuk delapan bulan terakhir dia membuat gumpalan di rambutnya yang juga disebut sanggul untuk tradisi Jawa. Menggunakan lipstik, perona pipi, hak tinggi, aku kagum dengan kecantikannya, semua murid didampingi orang tuanya dan begitu juga dia, ternyata Ayahnya masih mengingatku dan terkejut bahwa aku dan dia sekelas, ibunya juga menggunakan ekspresi yang sama dengan Ayahnya, selesai kami menjalani hari perpisahan ada suatu festival sekolah dimana khusus diperuntukkan untuk kelas dua belas yaitu Pentas Seni, berbeda dengan perpisahan semua siswa-siswi memakai baju Batik dan diadakan pada malam hari, hari ini adalah sebuah momentum untuk semua angkatan, dimana pada akhir acara akan ada sebuah video dimana perjalanan hidup saat kami masih kelas sepuluh, sebelas dan dua belas, banyak yang terharu melihatnya betapa cepatnya waktu berlalu, kami adalah pelintas waktu dan tidak sadar bahwa kami akan segera pergi, menyusuri ke tempat yang jauh, melanglang buana, melanjutkan ke perguruan tinggi. Setelah kegiatan itu kami tidak ada aktivitas lagi, kami libur selama empat bulan, selama empat bulan ini kami mencari perguruan tinggi dan mengurus data-data administrasi kami untuk kelulusan dan pendaftaran kuliah.

Satu bulan kemudian, semua siswa-siswi disuruh kembali ke sekolah guna untuk melihat hasil apakah kami lulus atau tidak, semua duduk di gedung auditorium dan kami diberi sebuah amplop dimana didalam surat tersebut berisi apakah kami lulus atau tidak, percuma apabila aku telah diterima di universitas tetapi tidak lulus di Sekolah dan pada akhirnya semuanya sia-sia, lalu aku membuka amplop dan aku melihat sebuah coretan di kertas itu dan coretan itu berada di kata ‘Tidak Lulus’ dan itu artinya aku lulus, begitu juga dengan semua siswa-siswi yang ada di auditorium semuanya lulus dengan hasil yang memuaskan, lalu semua berdiri dan tepuk tangan atas jasa yang sudah diberikan sekolah pada kami. Semua keluar dengan teratur, dan aku mencari dimana Yana, aku menemukannya dan melihat bahwa dia masih duduk di kursi itu dan tidak lekas pergi keluar, aku meraih tangannya dan senyum kepadanya, aku melihat dia meneteskan air mata yang sangat jernih dari kelopak matanya yang sangat indah, lalu aku menggandeng tanganya dan keluar menuju ke pintu keluar.

Sebuah mobil pribadi yang didesain untuk bepergian jarak dekat telah diparkir didekat halaman sekolah, Semua orang mengkerutkan alis mereka masing masing dan bertanya-tanya dalam hati siapakah gerangan yang datang dengan kendaraan nan mewah tersebut, hanya orang-orang tertentu yang bisa memilikinya, semua hanya berspekulasi, tak ada yang bisa menebak, angin disekitar mobil itu bertiup angin kencang bagaikan angin topan. Asha sudah tahu hal ini akan terjadi, karena ini adalah hari terakhir dia disekolah. Dia dijemput dengan kendaraan super elit. Dia tersenyum manis padaku sama seperti aku melihatnya di perpisahan terakhir kami, bedanya kini dia sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, gemulai, manja, lucu, cerdas, dan periang. Dia menggenggam tanganku menuju ke mobil.

“Asa.” Asha berbicara dengan lembut.

“ya?”

“kamu tahu ini hari terakhir aku berada di kota ini, untuk kesekian kalinya”

“aku mengalami De Javu

“hahaah tipikal mu Asa !”

“aku akan pergi ke Cambridge, aku kira ini akan menjadi pertemuan kita yang terakhir.”

“Cambridge!? Bukannya kamu akan ke Bandung?”

“tidak, aku telah diterima di Universitas Cambridge aku akan melanjutkan studi literatur Inggris disana.”

“tapi bagaimana dengan janji kita?”

“kita akan mewujudkannya dan itu pasti.”

Aku menyadari jarak antara aku dan Asha semakin menjauh dan menjauh kami, saat aku diterima di Bandung untuk melanjutkan studi literatur, dia malah melanjutkan ke luar negeri, dia selalu satu langkah didepanku, aku teringat kata-kata Gita apabila kita ingin mendapatkan seseorang kejarlah dia hingga dia luluh. Asha mulai menapakkan kakinya di pintu mobil, walaupun genggaman tanganya masih berada di tanganku dia tetap melangkah, lalu supir tersebut bertanya apakah Asha sudah siap, dan aku melepaskan tanganya yang lembut secara perlahan. Tak ada tutur kata, hanya sebuah tatapan, tatapan yang sangat mengartikan kekasih yang akan pergi jauh dan tidak pasti kapan dia kembali. Dia mulai tersenyum dan meneteskan air mata, mobil pun mulai bergerak dan wajahnya yang cantik nan menawan masih terlihat di dari kejauhan, mengeluarkan kepalanya dari jendela. aku masih bisa melihat dia mengusapkan kedua air matanya dengan baju seragamnya. Lekas aku segera berteriak untuk memberikan ucapan selamat kepadanya.

“Hei Asha!”

Yaaaaaa?

Saat reunian berikutnya, apabila kita berdua masih lajang, aku aku akan menikahimu !

“Itu janji Asa !”

“Ya... Janji Suci.”

Aku berpisah lagi denganya, kali ini aku tidak menangis karena umurku sudah tujuh belas tahun, Lambat laun mobil itu menghilang dari pemandangan mata dan aku masih menemukan diriku menatap ke arah mobil itu pergi dengan tatapan yang kosong. Disini aku mengambil keputusan untuk membuat novel yang akan dipublikasikan secara masal dan bisa masuk kedalam proyek film layar lebar, dimana novel itu harus menarik, menggunakan sudut pandang yang bergantian, tidak hanya sekedar cerita romantis saja, dan masih banyak lagi yang harus kupikirkan, tetapi ada satu kisah yang akan aku tuangkan delam tinta dan kertas-kertas putih yaitu adalah kau, pelita yang pudarkan gulita. Bagaimana bisa, menahan rindu yang terus terasakan, layaknya jemuran yang terus menerus tersiram air hujan, dan akhirnya ia meneteskan.

Asa Untuk Asha

Fin.

Friday, 29 June 2018

Yes, Here we are, back again. kali ini saya ingin memaparkan sedikit tentang apa yang terjadi di dunia maya yang perkembangan nya hampir tidak jauh berbeda dengan dunia nyata.

Pertama, kita kembali dulu yuk ke sekitar sepuluh tahun yang lalu dan saling mengingat apa yang terjadi pada waktu itu, pada saat itu saya berada di bangku sekolah dasar tepatnya kelas enam. apa yang kalian ingat pada tahun 2008 mengenai teknologi? banyak? tentu tidak. bahkan kalian akan sulit mengingat apa yang terjadi pada waktu itu. tepatnya pada tahun 2008, Indonesia mulai memasuki tren menggunakan Friendster dengan menghias-hias pernak-pernik halaman profil mereka sendiri, dikarenakan ada kemungkinan teman-teman kita bakal berkunjung tepat ke halaman kita. bukankah menggugah hati?

Yuk kita ingat sekali lagi pada tahun itu apa yang terjadi pada dunia teknologi. di tahun yang sama, Facebook juga mulai digunakan secara masif oleh orang-orang dari berbagai usia. saya masih ingat teman-teman saya mengajak saya ke sebuah warnet untuk mengajarkan saya membuat akun tersebut. apabila kalian membaca itu teman-temanku, tersenyumlah, aku juga bahkan tidak tau kapan kita bisa bertemu lagi. pada saat itu Facebook menjadi Platform sosial media yang paling banyak digunakan diseluruh dunia, berbagai nama-nama norak tercantum di nama kita dengan sebuah alasan, kita tampak keren di dunia maya tersebut. mengetik dengan menyingkat kata-kata, mengkombinasikan angka dan huruf, ah betapa naif nya. kita menggunakan dan memanfaatkan sosial media untuk menghubungkan kembali teman-teman atau berkenalan dengan teman baru di dunia maya pada saat itu. 

Pada tahun yang sama Twitter juga mulai digunakan secara masif oleh orang-orang hanya untuk menunjukkan betapa banyaknya sosial media yang kita punya, saling men-tweet, retweet, reply dan berbagai macam fitur lainnya seperti follow, followers dan sebagainya. akan ada hari yang aneh tanpa menerbitkan sebuat tweet didalam hidup pada saat itu.

Sekarang kita masuk ke tahun 2018, menurut kalian apa yang terjadi pada saat ini?  Dunia maya sudah layaknya menjadi rutinitas yang tidak dapat kita lewatkan bahkan menjadi kebutuhan primer yang krusial dibanding hal yang lain. kita pasti bakal kesulitan hidup sehari tanpa ada asupan informasi dari dunia maya. dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu, dunia maya menjadi begitu pesat. tapi adakah hal yang tidak kalian sadari dari hal ini? dimana dunia maya sudah menjadi hidup sekunder kita? hal ini ialah privasi.

Baru-baru ini Instagram memberikan sebuah fitur “ask me question” yang menuai pro dan kontra terhadap cara penggunaannya yang menurut saya pada akhirnya selama ada manfaat baik dalam penggunaan yang salah tidak masalah akan tetapi saya melihat orang ramai-ramai menggunakan “verb bla, bla bla blaaa,” untuk memberitahukan fitur tersebut secara benar, oh biarlah wahai netizen, biarlah netizen yang lain menggunakan fitur tersebut dengan cara yang dia suka. bagi saya biarkan mereka berkarya dengan cara yang mereka mau.  walaupun saya merasa terheran-heran dan melakukan sebuah eksperimen sosial dengan menanyakan sebuah pertanyaan pribadi ke beberapa orang dan lucunya, mereka menerbitkan pertanyaan pribadi saya beserta dengan JAWABANNYA oh tidak!, ada yang salah disini!, mereka memberikan privasi mereka dalam rangka popularitas semata, benar-benar ada yang salah disini.

Saya ingin membicarakan privasi, banyak orang-orang yang telah kehilangan privasi mereka akibat dunia maya, dan banyak yang memberikan privasi mereka secara cuma-cuma hanya untuk popularitas dalam jangka pendek dan pada akhirnya tidak ada orang yang melirik secara dalam kedalam privasi kita karena mereka hanya ingin tahu.

Menurut saya pribadi, siklus ini tidak akan pernah berhenti yakni, orang-orang akan selalu membagikan privasi mereka. tetapi ini yang menarik, saya pernah membahas tentang bagaimana logika dan perilaku manusia secara rasional. kita dapat mengetahui informasi seseorang berdasarkan pola pikir dan perilaku dan penampilan seseorang. apa yang terjadi apabila kita sudah mengetahui seseorang secara detail? kita tahu semuanya bahkan sampai sesuatu yang tidak mereka sadari.  dari hal yang penting sampai yang tidak penting.

Ketika seseorang kehilangan privasi mereka, hilanglah kharisma orang tersebut.

Kalian pernah menonton Sherlock? ada sebuah episode dimana dia dapat meretas akun seseorang hanya melihat dan mengumpulkan informasi terbatas mengenai ruangan orang tersebut, yap itu memang benar-benar sangat memungkinkan dikarenakan saya juga pernah mencoba dan berhasil melakukannya.

Sayaakan membahas salah satu bahaya dari membagikan privasi secara cuma-cuma. apa kalian sering mendengar Identity theft  di dunia maya? apabila belum tahu Identity theft ialah pencurian identitas, akan saya gunakan bahasa yang sangat mudah disini bahwa Identity theft adalah aktifitas yang kita gunakan dengan mengatas namakan orang lain(identitas yang kita curi) misalnya; berbelanja online dan pembobolan akun yang sangat sering dilakukan di negara-negara maju dikarenakan orang-orang yang telah kehilangan privasi mereka. hal ini sangat sering terjadi, percayalah dan saya juga bisa melakukannya disaat saya sudah sangat mengenal seseorang hingga mendetail, saya bisa menyusupi informasi seseorang secara penuh. saya bisa mengetahui kata sandi sosial media seseorang hanya dari apa yang mereka suka lakukan, buku favorit apa yang mereka baca, pengarang apakah yang paling mereka suka, percayalah saya bisa melakukannya.

Bukankan itu hal mengerikan? banyak selebritas yang sering menjadi korban ini. karena itulah beberapa dari mereka yang sudah sadar tidak membuat sosial media dikarenakan hanya untuk hausnya popularitas sesaat. mari kita ambil contoh disini, Scarlett Johansson pernah menjadi korban dimana foto-foto dia tersebar di dunia maya dan pada akhirnya dia memutuskan untuk tidak pernah bergabung menjadi salah satu warga internet. begitu juga dengan Felicity Jones dan masih banyak lainnya.

Tetapi, pada akhirnya kita cuma manusia biasa yang tidak pernah luput dari hausnya perhatian seseorang. mungkin kita melakukan itu hanya karena kita ingin orang-orang menyadari kehadiran kita, mungkin tidak. mungkin kita memberikan privasi kita karena kita berharap seseorang akan peduli dengan kita, atau mungkin kita hanya melakukannya untuk bersenang-senang atau mungkin juga tidak.

Akan tetapi, pada akhirnya saya juga seorang manusia yang tugasnya mengigatkan sesama bahwa ada konsekuensi terhadap sesuatu yang kita lakukan, termasuk memberikan privasi kita secara cuma-cuma dan pada akhirnya.,kita cuma manusia biasa.


Wednesday, 4 October 2017

Tidak terasa pada saat itu sudah tepat pukul 00.00 malam, dan kami baru menyadari setelah melihat jam di ponsel masing-masing. sesaat setelah Mia selesai menceritakan hal itu, kami mulai memikirkan solusi agar para peserta tidak diberi stressing ataupun kami sekalipun. Tono teman saya yang menjadi ketua panitia mulai memberikan saran mulai dari mengunci aula saat peserta tidur pada malam nanti  dan para panitia kabur lalu kembali hingga pagi, tetapi itu terlihat sangat tidak mungkin. Randi yang menjadi koor pubdekdok memberi saran untuk memanggil pihak yang berwajib pada saat kejadian berlangsung agar bisa dihentikan paksa, tetapi itu juga sangat beresiko dikarenakan kami juga akan terjerat hukum nantinya. Tyo yang menjadi koor keamanan pada saat itu menyarankan agar meletakkan ponsel dan merekam kejadian pada malam itu, tetapi itu juga sangat tidak mungkin mengingat kami akan di-stressing pada saat bersamaan. kami depresi berat akibat memikirkan hal-hal itu.

Mia yang berkata bahwa dia gak sanggup berbohong pada saat melakukan lip service guna membuat para peserta dari Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris untuk mendaftar acara PRA2K. dia berpikir bahwa dia takut  menjerumuskan adik-adik ini nantinya. sesaat dia menangis dan dilanjutkan dengan terisak-isak sambil mengulangi perkataan yang dia tuturkan bahwa dia tidak sanggup melihat adik-adik itu pada saat hari itu  terjadi. Randi yang tidak kuasa menahan amarah membentak Mia dengan mengatakan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan karena pada dasarnya kepanitiaan hanyalah sebatas manusia. Mia yang tak kuat menahan melampiaskan emosi kepada Randi, dan terjadilah sebuah pertengkaran kecil-kecilan.

“Iya, terus kita harus ngapain!?” Randi berteriak sekencang kencangnya sambil menepuk meja almunium hingga berbunyi sangat keras. Sesaat Mia dilerai oleh Arya, yang juga menjadi koordinator perlengkapan. pertengkaran itupun berujung kehampaan.

“…..”

“…..”

Keesokan haripun tiba. kami mulai menjaga posko mahasiswa baru dengan wajah yang bermuram durja dan bergundah gulana, memikirkan solusi yang tidak kunjung datang walaupun mahasiswa berdatangan, dipoles dengan senyum dan ramah-tamah, kami harus tetap melanjutkan kewajiban kami, menyediakan fasilitas dan membantu sebaik apapun yang dapat kami lakukan, walau tak sanggup, kami tetap mengajak adik-adik untung mengundang PRA2K. aku tidak akan berbohong akan keasyikan di acara ini. para mahasiswa yang dari lelaki hingga perempuan serentak mendaftar, berbondong-bondong mengambil formulir dan mengembalikan dengan sejuta tawa. hari demi hari terlewati, peserta yang tadinya mengambil formulir, mulai mengembalikan,  Ya, ini menjadi tanggung jawab kami, kami akan memberi adik-adik ini arahan kedepannya, sebuah amanah yang berat telah diberi oleh kami dan kami juga tidak boleh mengecewakannya.

Tidak lupa, setiap malam selalu kami selipkan aktifitas Rapat kami sesama panitia untuk membicarakan sebuah “acara” dibalik kegiatan itu sendiri. kami pun menyadari bahwa kami mulai diawasi oleh PU kami, Demisioner ketua PRA2K sebelumnya, mungkin dikarenakan tingkah laku kami yang agak mencurigakan, atau mungkin ini selalu menjadi tanggung jawabnya? Entahlah. aku hanya sedikit heran, apabila sebuah rapat internal panitia berlangsung, berarti hanya panitia yang akan hadir, entah kenapa dia selalu ada, entahlah, mungkin dia sosok yang selalu didambakan setiap perempuan yakni selalu ada. walaupun kami mulai agak risih dengan kehadirannya, kami tetap tidak menghiraukannya.

Ini disebabkan bahwa dia sering membentak kami di grup media sosial khusus kegiatan yang akan diselenggarakan, tetapi mungkin juga perasaan kami yang sangat sensitif dikarenakan batin kami yang sedang lelah. seluruh PU selalu membentak kami pada saat itu, hingga kami makin membulatkan niat untuk tidak bertanya kepada mereka. anehnya kami pun tidak pernah dibantu saat rapat besar berlangsung oleh PU, kami selalu dibentak-bentak oleh senior, yang mana pada saat itu aku bertanya-tanya apabila PU ialah bagian dari kepanitiaan yakni mengambil tiga puluh persen dari kepanitiaan, kenapa kami tidak dibantu walaupun setidaknya membantu menjawab pertanyaan yang dilontarkan ke senior?

Saat pagi kami menjaga posko, dan pada saat malam kami melakukan rapat kami, repetisi yang tiada henti-hentinya. Layla koordinator konsumsi yang sangat jarang mengikuti kami dikarenakan dia bekerja pun ikut berkumpul dengan kami dan terkejut sesaat setelah dia mendengar hal ini, hingga pada akhirnya diapun juga merasa bahwa dia harus ikut turut andil dibagian ini. pada akhirnya Tono pun menyuarakan sebuah ide yang sangat gila. dikarenakan tidak ada solusi yang didapat, Tono berinisiatif menyabotase kegiatan yang dimana dia sendiri ketua panitianya! awalnya ide ini terlihat gila, walaupun pada akhirnya kami menyetujuinya.

keesokan hari nya akupun tetap menjaga posko mahasiwa baru, sedangkan Tono, Tyo & Layla bersiap untuk menemui Ketua Jurusan kami. Layla berinisiatif untuk ikut dikarenakan ini memang harus dilakukan, karenanya dia mengambil cuti beberapa hari untuk itu. aku Mia, Arya & Randi tetap menjaga posko sambil bertanya-tanya, apa yang terjadi pada kami apabila kami tertangkap basah memboikot acara kami sendiri. tanpa sadar aku memikirkan itu, 225 mahasiswa sudah mendaftar di kegiatan ini. akupun melihat daftar registrasi dan masih tidak percaya dengan banyaknya yang mendaftar, bahkan aku tidak pernah berekspektasi akan setinggi ini. aku dan teman-temanku pernah berbicara dengan senior kami dan menanyakan tahun berapakah mahasiwa yang paling banyak mendaftar, senior kami pun memberikan jawaban bahwa tahun PRA2K 2011 mempunyai daftar peserta paling tinggi yakni 201 mahasiswa, dan kami pun berkata bahwa kami akan melampauinya, ya, kami melampauinya. dan akupun tersenyum dalam diam.

Warna langit berubah menjadi jingga, sekiranya kami mulai menutup posko dan bergegas untuk menemui kawan kami yang sedang berjuang. tanpa lalu lama, kami langsung menuju kampus dan bertemu. pada saat itu juga demisioner ketua pra2k sebelumnya mengintai kami, kamipun tak kuasa menahan amarah dan mengusir dikarenakan terganggunya privasi kami. walaupun aku mulai merasa akan ada intrik pertikaian yang akan dimulai dikarenakan kami berani mengusirnya. sesaat itu Tono, Layla dan Tyo pun mulai bercerita perjalanan mereka menuju petinggi-petinggi.



Wednesday, 27 September 2017

Setelah itu kami terdiam tersedu, kami tak bisa berkata apa-apa dan pada akhirnya kami cuma membahas stressing tanpa adanya solusi, kami yang belum mengetahui apa-apa dan harus menghadapi hal seperti ini. kami memutuskan untuk melanjutkan pembahasannya nanti dikarenakan raga sudah lelah pada saat itu.

Esok harinya kami melakukan rapat PU untuk membahas konsep posko maba dan adapun hasilnya kami dibentak hanya karena kami melakukan kesalahan kecil, dimarahi selama rapat membuat kami mulai merasa marah tapi hanya dalam diam. Dilanjutkan dengan rapat besar, alumni dan senior pun memarahi kami dan membentak kami dengan alasan alasan yang tidak penting. Selama kami rapat PU ataupun rapat besar, kami selalu bagaikan masuk ke kandang singa, kami merasa rapat besar ialah hal yang menakutkan, hal-hal itupun yang membuat kami patuh apapun yang dikatakan senior walaupun itu hanya sekedar saran, dikarenakan pikiran kami yang mulai blank disebabkan selalu dibentak, dimarahi, dan dicaci maki.

Posko registrasi maba (mahasiswa baru) dibuka pada minggu kedua Agustus dan saya beserta kawan-kawan membuka dua posko di GK (Gunung Kelua) dan di Kampus Pahlawan, ya khusus untuk FKIP, Universitas Mulawarman mempunyai tiga Kampus yang berbeda lokasinya dan salah pusatnya ialah GK untuk Jurusan MIPA, Pahlawan untuk Jurusan Bahasa dan Seni & terakhir Banggeris untuk Jurusan Sosial. Tiba harinya kami pun membuka posko maba dan membantu para teman-teman yang sedang kebingungan, kami melihat para mahasiswa baru berkeliaran di kampus GK, bermacam ragam program studi mendatangi posko mereka masing-masing dan kamipun banyak membantu para mahasiswa baru. Kami membantu proses registrasi mereka dan pengisian borang, berbagai adik-adik baru dari yang besar hingga yang masih kecil bertanya-tanya, tak lupa kami mendekatkan diri dengan mahasiswa baru dan mengajak mereka untuk mendaftar PRA2K, kami mencari data-data berapa banyak mahasiswa jurusan pendidikan bahasa & seni dan saat kami mendapatkan ada sekitar dua ratus lima puluh mahasiswa yang perlu kami ajak untuk mengikuti PRA2K. Lalu, beberapa hari setelah posko dibuka kami mendapati salah satu mahasiswa yang ternyata salah satu kakinya diamputasi akibat kecelakaan sehingga kami tidak mewajibkan dia untuk ikut serta, kami bisa membebani apabila ada hal-hal yang diluar kendali. kami hampir melakukan pencarian informasi seiring berjalannya waktu dan tidak terasa kami hampir seminggu menjalankan aktivitas posko bantuan maba.

Setelah posko ditutup kami pun kembali ke kampus pahlawan untuk bersiap-siap melakukan gerakan bawah tanah pada malam hari dikarenakan kami masih tidak ingin berdiam diri saja dengan adanya tradisi seperti itu. Akan tetapi saat sore itu, saya ditelpon oleh nomor tidak dikenal dan ternyata itu adalah salah satu orang tua mahasiswa baru yang menanyakan kegiatan PRA2K, awalnya dia bertanya baik-baik saja sampai akhirnya dia mulai membentak tentang permasalahan izin menginap atau tidak, saya yang sudah mengkonfirmasi bahwa kami sudah mendapatkan izin menginap kepada orang tua itu malah direspon dengan cara yang tidak santun, dengan membentak-bentak dia berkata bahwa dia tahu apabila ada sebuah ospek yang melewati sampai tengah malam, berarti akan ada sebuah kegiatan terlarang yang tidak tertulis di rundown acara.

Saat itu saya tidak berkata apa-apa dan saya diserang terus menerus sehingga saya harus memberikan telpon itu kepada ketua panitia saya. Saya pun meninggalkan dia dan saya duduk ke taman di depan kampus untuk berpikir sejenak. Sesaat setelah teman saya kembali kami pun bertanya-tanya tentang orang tua itu dan dia bilang dia bisa meyakinkan orang tuanya untuk ikut berpartisipasi pada hari itu apabila tidak percaya. Kamipun hanya bisa mengangguk dengan apa yang dia ceritakan.

Sesaat setelah itu teman perempuan saya memulai pembahasan gerakan bawah tanah kami dan mulai mendengarkan dengan seksama, dia sudah mendapatkan informasi terkait tentang bagaimana Tradisi itu berjalan dan dia mengingat sebuah peristiwa penting saat dimana mereka menjadi peserta.

Dia juga memberi kami informasi bahwa pada saat itu senior & alumni akan berada dibawah setengah sadar, saya baru menyadari hal itu berhubungan dengan PU yang sudah menceritakan dimana akan ada pesta minuman keras, dan akhirnya saya menyadari bahwa semuanya terhubung. Begini kesimpulannya, alumni dan senior akan melakukan stressing kepada panitia dan kepada peserta sesaat setelah mereka melakukan pesta minuman keras mereka akan melakukan stressing kepada mahasiswa baru beserta kami.

Setelah itu Mia juga menceritakan bahwa saat mereka menjadi peserta, dia ingat bahwa ada salah satu peserta perempuan yang tidak terima dengan perlakuan stressing pada malam itu, dan dia mencari dimana panitia malam itu karena dia tidak dapat melihat salah satu panitia yang melakukan stressing itu. tentu pikirku, sejak aku tahu bahwa panitia juga akan distressing, tentunya mereka sedang distressing pada malam itu. tetapi hal yang membuatku tercengang ialah, wanita yang bernama Lestari itu digiring oleh para senior keluar dan para peserta yang lain tidak tahu apa yang terjadi pada saat itu. sesaat setelah Lestari kembali dia hanya mengatakan satu hal ketika teman-temannya menanyakan apa yang terjadi di kegelapan malam itu, dia hanya berkata bahwa dia akan melapor polisi. seketika aku merinding mendengarnya. apa yang terjadi sehingga sampai membuat Lestari ingin melaporkan malam itu ke polisi? pada akhirnya hanya dia, para malaikan dan Tuhan saja yang tahu kejadian pada malam itu.

Thursday, 3 August 2017

Untuk kalian yang pernah ikut dalam organisasi, bagaimana kalian merasakannya? apakah mendapatkan ilmu kehidupan? ya tentu, kita saling mencuri ilmu dalam dunia organisasi entah itu ilmu, kesekretariatan, advokasi, berpikir kritis, cerdas atauapun sebagainya. ya mengikuti organisasi sangat menyenangkan, mendapatkan ilmu dan teman, saudara baru yang mempunyai visi misi dan sama.

Bukankah itu membuat kita betah? ya menurut saya juga begitu, saya akan memaparkan tentang organisasi saya, setidaknya dulu. nama organisasi saya adalah Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dari Universitas Mulawarman (Samarinda) atau disingkat HMJ BASE (dulu) Sekarang berubah menjadi (HMJ PBS).

Tahun 2014 tepatnya, saya baru masuk ke perguruan tinggi negeri Universitas Mulawarman di FKIP program studi Pendidikan Bahasa Inggris. Hidup saya hampa pada saat baru masuk ke dalam jenjang atau masa transisi dari siswa ke mahasiswa karena banyaknya diskriminasi yang saya lalui saat berada di SMA.

Saya ingin mengubah hidup saya sepenuhnya dan saat itu yang saya pikirkan ialah bergabung dengan organisasi, tapi organisasi apa? saat itu banyak yang berada dalam pikiran saya adapun yakni; BEM KM (BEM Universitas), BEM FKIP, ESA (English Students Association), UKM dan sebagainya. Tetapi ada satu yang sangat menarik perhatian saya yaitu HMJ BASE, kenapa? karena pada saat masa saya menjadi mahasiswa baru, saya melewati satu proses yang wajib diikuti oleh saya pada saat itu seperti contoh, PAMB (Percepatan Adaptasi Mahasiswa Baru) yang dulu namanya itu OSPEK tetapi diganti, PENDIDIK (Acara perkenalan/penyambutan khusus mahasiswa FKIP lalu, ada satu acara yang saya lewati dan namanya ialah PRA2K (Praktika Prakuliah dan Kaderisasi).

PAMB (Universitas) > PENDIDIK (Fakultas) > PRA2K (Jurusan) > IONES (Program Studi)

Ya, PRA2K adalah acara penyambutan khusus mahasiswa jurusan, Jurusan disini maksudnya ialah satu tingkat diatas program studi, jadi kita harus bisa membedakan pertanyaan antara apa jurusan kamu dan apa program studi kamu. Untuk jurusan saya yaitu Pendidikan Bahasa dan Seni karena saya program studi bahasa Inggris, di Universitas Mulawarman hanya terdapat 2 Program studi yang meliputi cakupan Bahasa dan salah satu yang lain ialah pendidikan Bahasa Indonesia dan tak ada lagi program studi yang meliputi Seni, karena itu di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni hanya menaungi 2 program studi. jadi, untuk acara PRA2K hanya menyambut Pendidikan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

Acara PRA2K-lah yang saya tidak ikuti karena pada dasarnya saat tahun 2014 saya sudah mendengar rumor-rumor aneh dari pihak-pihak yang entah saya lupa, tapi bukan itu yang saya permasalahkan, pada saat itu kesehatan saya kurang baik dan acara PRA2K diwajibkan menginap 3 Hari, itu adalah kenapa alasan saya tidak mendaftar, ya walaupun pada saat itu saya bertemu dengan salah satu kakak yang menjaga posko di kampus pahlawan untuk pengambilan almamater dan menanyakan apakah saya sudah mengikuti PRA2K atau belum dan saya menjawab belum, saya diberi formulir tetapi tidak saya isi karena saya takut saya kesehatan saya bisa menurun pasca acara. alhasil saya melewati acara PRA2K dan setelah acara itu saya melewatkan banyak hal, seperti teman baru, Password, Salam PRA2K dan lainnya. dalam satu minggu, teman-teman yang mengikuti acara PRA2K selalu membicarakan itu dan saya bisa melihat betapa bahagianya wajah mereka, mungkin karena asik sekali dan saat itu ada penyesalan yang tidak terbantah dalam benak saya yaitu kenapa saya tidak mengikuti acara itu. lalu saya mengikuti acara IONES (Introduction of Organization for New English Students) yakni acara khusus program studi Bahasa Inggris.

Setelah semua acara penyambutan selesai dimulailah dunia perkuliahan. pada saat itu teman-teman sekelas saya mulai sering berkumpul di depan sekretariat HMJ untuk berbincang-bincang, karena itu secara tidak sadar saya mengikuti mereka dengan ikut berkumpul. Saya merasa tersisihkan awalnya dikarenakan saya tidak tahu apa yang sedang mereka bahas mengenai PRA2K yang sudah 2 minggu lewat, tetapi mereka masih merasakan euphoria sesaat setelah mereka membahas PRA2K, salah satu kakak tingkat saya mengajak kami untuk makan-makan di rumahnya, saya beserta teman-teman saya ikut walaupun saya merasa masih menjadi outsider dikalangan mereka, akan tetapi saya tetap merasa percaya diri untuk ikut bersama-sama mereka.

Satu-satunya hal yang saya sadari ialah dimana mereka sangat menyambut kedatangan para calon-calon kader mereka dan saya adalah salah satu diantara calon-calon tersebut. hati saya mengatakan pada saat itu kalau saya harus mengikuti organisasi itu dan saya pun mengisi pendaftaran untuk masuk kedalam organisasi itu.

Setelah itu saya memutuskan untuk ikut bergabung menjadi bagian HMJ BASE dan saya mendapatkan banyak pengalaman baru serta teman-teman baru. saya pun merasakan kepanitiaan pertama saya di Gebyar Bahasa 2015 dan selanjutnya diikuti oleh Musyawarah Mahasiswa.

Alhasil setelah itu ketua HMJ yang baru diangkat dan saat itu pemilihan ketua kepanitiaan PRA2K 2015, tidak terasa, satu tahun berlalu dan saya menjadi salah satu panitia di acara yang belum pernah saya ikuti, dan yang paling mengejutkannya ialah, saya adalah koordinator acara PRA2K 2015! disitulah kemampuan berpikir kritis saya diasah hingga kebatas dimana saya menjadi seperti sekarang.

Teman-teman saya menjadi keluarga kecil saya di PRA2K, kami memulai rapat PRA2K kami dibimbing oleh PU (Pembantu Umu) untuk memberikan hal-hal yang dianggap penting. kami diberi wawasan bahwa PRA2K pertama kali dilakukan pada tahun 1997 Hingga pada saat tahun 2015 pada saat itu. 18 tahun sudah berjalannya PRA2K dan kami akan menjadi salah satu panitia yang mengukir nama kami di SK nantinya.

Di HMJ rapat kepanitiaan terbagi menjadi 3 bagian, Rapat Internal (rapat yang dilakukan oleh sesama panitia) rapat PU (rapat yang dilakukan oleh PU  & Panitia) lalu rapat besar yakni (Panitia, PU dan Senior beserta Alumni).

Setelah kepanitiaan berjalan selama dua minggu, teman saya pun mulai membahas tentang sebuah kegiatan malam dimana seluruh mahasiswa baru akan melakukan kegiatan yang dinamakan Stressing, ya, inilah cikal bakal dimana saya mengetahui sisi gelap dalam sebuah organisasi, saya tidak tahu nama kegiatan ini disebut apa, Plonco? Penggojlokan? Saya pun mulai merasa bingung, hingga saya mulai menanyakan apa itu stressing. Teman saya menceritakan Stressing itu adalah kegiatan dimana seluruh mahasiswa baru yang mengikuti acara PRA2K pada hari itu akan disuruh melakukan apapun yang diperintah senior, Push-Up, gulung-gulung dilantai dan sebagainya.

Hal ini membuat saya tercengang beberapa detik, saya melanjutkan pertanyaan saya tentang apa saja yang terjadi pada hari itu, dan yang membuat saya tercengang ialah itu akan dilakukan pada malam hari, tepat dimana setelah kegiatan malam keakraban.

Saya tipe seseorang yang tidak akan langsung percaya dengan apa yang saya dengar, karena dari itu saya menanyakan hal itu kepada PU saya, awalnya saya menanyakan tentang PRA2K secara umum dan apa saja yang akan terjadi pada 3 hari 2 malamm itu, PU saya pun dengan menggebu-gebu menceritakan tentang hal-hal yang akan terjadi pada malam nanti, tentang bagaimana para senior dan alumni datang untuk reuni dan akan ada sedikit melakukan pesta minuman keras dan bagaimana asiknya pada malam itu, saya pun dengan seksama mencari informasi selagi menyimak hingga pada waktu yang tepat saya menanyakan tentang hal yang terjadi dan lantas jawaban yang diberikan PU saya sangat tidak memuaskan saya masih ingat jawaban dia hanya seperti “Urus saja acaramu dulu”. Sontak saya kaget dan terheran-heran, pertama kalinya saya diberikan jawaban yang tidak membantu sama sekali, tetapi saya tidak putus asa, saya langsung menanyakan PU Acara saya dan menanyakan hal yang sama, untungnya PU acara saya menjawab dan menjelaskan hal itu secara detail.

Walaupun pada saat itu PU acara saya menjelaskan kenapa hal itu bisa terjadi dan manfaat sebuah kegiatan itu sendiri saya tetap tidak setuju dan saya bertanya apakah itu bisa dihapus atau tidak, PU acara saya pun menjawab tidak bisa karena itu adalah sebuah tradisi.

Saya makin menyadari ada hal yang tidak beres di dalam kegiatan ini, semua hal-hal itu saya hubungkan mulai dari stressing & tradisi, kenapa itu bisa terjadi? disitu saya memutuskan saya tidak bisa percaya lagi dengan PU saya dan saya memutuskan mencari informasi lebih lanjut ke teman-teman saya.

Teman-teman saya pun mencari tahu informasi secara diam-diam dikarenakan kami menyadari kalau kami sudah memboikot acara PRA2K. Salah satu teman saya mendapatkan informasi dari salah satu orang yang kami ajak untuk bergabung kedalam kepanitiaan tetapi menolak sebut saja namanya Po, saat teman saya menanyakan kenapa, Po menjawab bahwa dia tidak mau kena stressing, tetapi teman saya menjawab bahwa yang akan distressing ialah peserta bukan panitia, Po pun menjawab bahwa panitia juga akan kena stressing dan dia sudah positif bahwa hal itu akan terjadi. teman saya sontak ketakutan saat mendengar hal itu. Po pun menjelaskan dengan rinci bahwa yang akan melakukan itu bukan BPI (Badan Pengurus Inti) akan tetapi senior & alumni yang melakukan kegiatan itu pada jurig malam.

Saya dan teman-teman saya yang melakukan rapat diam-diam pada malam itu tidak dapat berkata-kata dan pada akhirnya kami menyadari bahwa Panitia dan Peserta akan diberi stressing, lantas bagaimana kami akan melawannya? kami yang hanya sekedar beberapa mahasiswa yang baru berada satu tahun di kampus melawan para alumni dan senior yang sudah sangat berpengalaman dalam hal ini. bagaimana kami akan menghancurkan tadisi yang sudah berjalan hingga delapan belas tahun?


Thursday, 27 August 2015


Halo, Saya mahasiswa di Universitas Mulawarman dan beberapa waktu lalu saya disuruh menghafal lagu Hymne Mulawarman(dulu hapal tapi habis itu kagak) jadi saya sempat cari lirik2 nya di Internet dan ternyata lirik2 di internet itu SESAT jadi sejak saat itu saya jerah dan meminta liriknya langsung dari teman saya dan bersyukurlah saya mempostingnya disini, liriknya 100 persen BENAR


Mulawarman dan bumi ini
Mulawarman dan diri kami
Satu dalam s’mangat dan cita
yang nyala bagai matahari

yang takkan kami biarkan padam

tak kami perkenankan padam

Dengan tekad dan keringatku
Akan ku curahkan bakti
padamu rakyat dan bangsaku
Tumpuan ilmu dan citaku
Mahakam akan menjadi saksi
Tak kami biarkan berhenti

Mulawarman-ku
almamaterku tercinta
tumpuan harapan bangsaku
lestari alam ku abadi



tags: lirik lagu hymne mulawarman yang benar

Popular Posts

Followers